Langsung ke konten utama

Postingan

[CERPEN] -- Memories

a short story from Ma Fuja November 2019 “Aku gatau gimana ceritanya kalian bisa pacaran terus sekarang menikah,”             Aku memandang Raya, perempuan bertubuh mungil yang seminggu lalu sudah resmi menjadi adik iparku. Kini berganti memandangi sosok Rudy yang sejak 1 tahun lalu menjadi kekasihku dan resmi menjadi suami sejak seminggu yang lalu juga. “Anak kecil fokus kuliah aja, gausah mikir gimana dulu kita berdua ketemunya,” jelas Rudy sambil menggenggam jemariku.          Ah iya saat ini kami sedang berada di kafe milik Rudy, sudah ada sejak kami belum berpacaran dan kini aku ikut ambil bagian dalam mengurusnya termasuk melayani pelanggannya. Masih pukul tujuh pagi, masih ada waktu untuk saling bercerita sebelum pukul sembilan. “Aku beneran penasaran, Mas Rudy kerjanya tukang masak sementara kak Yian tukang foto gimana ketemunya?” Aku tertawa lepas sa...

[CERPEN] -- Birthday Gift

"I just wanna say, thank you for remember," a short story by Fujama. “Giliran Gue!” Tania memutar sebuah botol kaca yang terletak di meja dan dikelilingi oleh Aku serta ke-4 temanku. Mereka adalah Wisnu, Hardi, Luna, dan Tania. “Yes! Hardi! Truth or dare? ” Hardi langsung memegangi kepalanya dengan mulut yang siap mengutuk tampang Tania yang sangat senang sekali. “Truth!” jawabnya kesal. “Ok, siap-siap,” Tania menggigiti bibir bawahnya, memikirkan apa pertanyaan yang pas. “Apa yang menurut Lo hal terbusuk banget dari Luna?” tanyanya langsung. “Luna kalo berak sering banget lupa kunci pintu toilet, sumpah!” PLAK! Luna langsung menghantam keras punggung Hardi, hal itu mengundang tawa Kami mengingat mereka adalah satu-satunya pasangan yang ada di lingkup pertemanan Kami. “Habis Tania langsung giliran gue kan?” tanpa menunggu jawaban, Wisnu langsung mengambil alih botol kaca dari tangan Tania. “Bentar dulu!” Tania begitu saja menangk...

[CERPEN] -- Biru

            a story by Fujama           Aku adalah seorang produser di salah satu televisi swasta dan saat ini tengah terlibat di programku sendiri. Sedari tadi membolak-balik kertas yang berisi pertanyaan, sambil memperhatikan timku yang berisi kameramen dan pewawancara. Sesaat lagi Aku bersama dengan timku akan melakukan sesi interview dengan salah satu narasumber. Program yang kutangani saat ini bernama Aroma, bukan program yang menampilkan seorang chef sedang menciptakan sebuah masakan, tetapi menampilkan siapa saja yang melalui kisah ceritanya mampu menciptakan aroma emosi milik para khalayak yang menonton dan mendengarnya. “Mbak, narsum udah dateng!”             Setelah melihat Rian dan Endah sibuk dengan kamera dan mikrofon, Aku langsung berdiri dan menjabat tangan Rubyola Dann. “Tamara.” “Ruby.” “Kita briefing sebe...