#July1999
Sebelumnya, hanya ada langit abu-abu, berikutnya air
turun membasahi siapapun. Seiringan dengan tangisan gadis kecil yang meraung
pada kedua makam yang masih basah.
“Papa...
Mama....”
Di samping gadis itu, setia seorang perempuan tua
mendampinginya menangis. Seseorang yang sangat memahami apa yang dirasakan gadis
kecil tersebut. Kecelakaan dahsyat yang membuat anak berumur 9 tahun harus
kehilangan kedua orangtua untuk selamanya.
“Ayo
kita pulang Nak,” ucap sang perempuan tua.
“Kalau
kita pulang, Mama sama Papa sendirian Oma,” balas sang gadis kecil yang
merupakan cucunya.
Perempuan tua tersebut hanya bisa memeluk erat
cucunya dan berharap ia bisa menggantikan peran kedua orangtuanya dengan sangat
baik.
~~~
#July2000
Gadis kecil itu ialah Kiara. Semenjak kepergian
kedua orangtuanya, ia hidup bersama dengan Oma-nya. Menjalani hari yang hampa
tanpa orangtua dan juga harus merawat Oma yang penyakitan.
Bagaimanapun juga, sudah setahun sejak Kiara
kehilangan kedua orangtuanya akibat kecelakaan mobil. Kejadian yang membuatnya
terus-menerus menyalahkan dirinya.
Di seberang sana, Kiara memperhatikan sepasang
suami-istri sedang mengantar anak mereka sekolah. Hal yang sama pernah ia
dapatkan dari kedua orangtuanya saat masih hidup. Namun, bukan itu yang menjadi
perhatian khusus Kiara.
Kiara seolah terhipnotis dan tak sadar ia sedang
dalam bahaya. Ia tak sempat menoleh, namun decitan ban mobil dan keramaian
orang sekitar membuat Kiara tak berkutik dengan mata yang siap terpejam.
~~~
#April2016
“Lagi ada kasus apaan
sih? Kok daritadi sibuk bolak-balik map terus? Makanan kamu dingin tuh!”
Adji menolehkan
pandangan ke seorang perempuan cantik yang tampak kesal. Ia tidak perduli dan
malah menggoda perempuan tersebut dengan membersihkan sisa makanan yang
menempel di sudut bibirnya.
“Orang-orang tahu kalau
kamu itu Sadjiadnan Wijaya, pengacara hebat yang hampir selalu memecahkan
segala kasus ruwet. Jadi sekarang ini waktunya kamu untuk makan siang bareng
pacar yang jarang kamu urus,”
Adji hanya bisa
tersenyum melihat Yoanna menarik berkas yang tadinya sibuk ia lihat. Yoanna,
sosok perempuan cantik yang merupakan salah satu reporter televisi, terkenal
dengan gaya penyampaian beritanya yang lugas dan tegas.
“Kamu gak bosen kan
jadi pacar aku?” tanya Adji sambil membelah daging steak panggang pesanannya.
“There’s
no reason for it,” jawab Yoanna.
Yoanna
penasaran, dibukanya berkas yang tadi sibuk dilihat Adji. Kini malah Adji yang
tersenyum geli melihat tingkah Yoanna ketika sudah penasaran.
“Itu kasus udah lama
banget, kejadiannya waktu aku masih kecil. Aku udah tanya sama kejaksaan soal
kasus itu, katanya udah lama ditutup. Kecelakaan hebat yang menewaskan 2 orang korban,
kata mereka ada satu korban yang selamat tapi aku gak tahu dimana dia
sekarang,” jelas Adji.
“Memangnya kalau dia
masih hidup kamu mau ngapain?” tanya Yoanna masih melihati berkas milik Adji.
“Aku bakal minta sidang
dibuka lagi. Aku yakin kecelakaan itu bukan kecelakaan tunggal, pasti ada pihak
lain,” jawab Adji.
“Korban yang selamat
itu, dia udah meninggal.”
Adji tersenyum mencoba
mempercayai ucapan kekasihnya. “Kamu tahu darimana?”
“Namanya Kiara Sabrina
Nugroho, dia anak dari korban yang tewas. Semenjak kedua orangtua-nya
meninggal, dia tinggal sama Oma-nya, kabar terakhir malah ada yang bilang
Oma-nya meninggal karena sakit dan Kiara tewas tertabrak mobil,” jelas Yoanna.
“Dulu aku tinggal di lingkungan yang sama kayak Kiara,” lanjutnya sebelum Adji
kembali bertanya.
Adji
menganggukkan kepalanya, ia tidak memberikan komentar terhadap Yoanna. Namun
hal itu malah semakin membuat rasa penasarannya memuncak.
“Gimanapun juga, itu kasus
17 tahun yang lalu. Orang-orang mana peduli,” ucap Yoanna yang langsung dilirik
Adji.
~~~
Di kamarnya,
Adji masih melihati berkas kasus 17 tahun yang lalu. Penjelasan Yoanna malah
semakin membuatnya penasaran, ia bahkan pernah menyelidiki sendiri kasus
tersebut. Ada banyak kejanggalan yang ia temukan, termasuk keberadaan keluarga
korban yang sama sekali tidak bisa ia temukan, sekalipun mereka sudah meninggal
seperti yang dikatakan Yoanna.
“Adji!
Turun! Makan malam!”
Teriakan Ibunya
selalu berhasil membuatnya sadar dari lamunannya. Adji memilih bangkit
menghampiri keluarganya yang mungkin sudah menunggunya di meja makan.
“Hai!”
Adji tidak akan
terkejut kalau saja yang mengatakan ‘hai’ padanya adalah Ayah atau Ibunya.
Yoanna, perempuan itu duduk bersama keluarganya sambil tersenyum manis padanya.
“Tadi Papa ketemu Yoan
di kantor. Kamu ini gimana sih? Kenapa jarang ajak Yoan main ke rumah kita?”
Bukannya kesal,
Adji malah senang Ayahnya marah padanya. Setidaknya ia senang karena tidak
hanya dirinya yang menerima Yoanna, tetapi keluarganya juga.
“Saya belakangan juga
suka sibuk, dan Adji juga begitu. Jadi, wajar kalau saya jarang main ke rumah
Om dan Tante,” ucap Yoanna sambil menuangkan nasi ke piring Adji.
“Kamu sih wajar sibuk
Yo, nah si Adji? Belakangan dia nolak beberapa kasus besar, alasannya cuma mau
istirahat,” ucap Ibu Adji.
“Mama....”
“Jadi kapan kalian akan
menikah?”
Yoanna dan Adji
sama-sama menghentikan aktivitas mereka, disodorkan pertanyaan seperti itu oleh
Ayahnya membuat Adji bingung sendiri.
“Kalian udah lama
pacaran dan Papa mau kalian itu berakhir di pelaminan.”
“Tapi...”
“Secepatnya Pa.”
Yoanna menelan
ludahnya dan memandang Adji tidak percaya. Menikah dengan Adji sama sekali tak
terpikirkan olehnya. Ia hanya bisa memandang tangannya yang digenggam erat
Adji.
~~~
Yoanna
menghempaskan dirinya ke kasur, ia pejamkan matanya berharap saat ia membukanya
semua sudah berakhir.
Saat itu ia
mewawancarai Adji yang memenangkan kasus gugatan salah satu perusahaan besar di
Jakarta, sebuah pertemuan yang tak disangkanya. Selain memiliki tampang rupawan
dan otak yang pintar, Adji juga merupakan anak tunggal dari komisaris besar
salah satu stasiun televisi swasta, tempat dimana Yoanna bekerja selama ini.
Yoanna paham,
orang-orang sulit menerima bahwa ia adalah kekasih dari anak komisaris tempat
ia bekerja. Yoanna sadar dirinya hanya seorang perempuan biasa yang dikenal
oleh beberapa orang karena gaya penyampaian beritanya yang tajam. Ia tidak kaya
dan masih banyak gadis yang lebih cantik darinya, ia tidak tahu apa yang sedang
atau akan ia lakukan nantinya, ia hanya butuh Adji. Itu saja.
~~~
#Mei2016
“Kamu
tunggu aja di restoran biasa, nanti aku ke sana. Oh iya, aku juga udah pesan
wine, kamu minum aja duluan.”
Yoanna menghela
nafasnya, ia memandangi ponselnya. Ditinggalkannya ponsel di meja lalu ia pergi
menaiki lift menuju lantai paling atas, ruang komisaris.
“Yoan, ada apa?”
Yoanna tersenyum
tanpa menjawab pertanyaan Ayah Adji. Ia malah mendekat dan berdiri di hadapan Alan
yang tadinya sibuk mengerjakan beberapa berkas.
“Saya tidak tahu apakah
anda ingat saya atau tidak. Tapi saya yakin kalau anda masih ingat dengan Rudy
Nugroho dan Wilona Anggun,” ucap Yoanna.
Alan menelan
ludahnya diam-diam sambil menatap wajah Yoanna yang ia kenal sebagai kekasih
anaknya.
“Kamu....”
“Saya Kiara. Kiara
Sabrina Nugroho, yang sempat dinyatakan tewas tertabrak mobil 10 tahun yang
lalu,” jelas Yoanna yang selama ini merupakan Kiara.
“Kenapa kamu muncul
sekarang dan apa mau kamu sekarang?” tanya Alan seolah masih tidak percaya
perempuan dihadapannya adalah Kiara.
“Anda kira saya diam
saja melihat orang yang membuat kedua orangtua saya meninggal masih hidup bebas?!
Saya ingat mobil yang Anda naiki dulu sama dengan mobil yang membuat orangtua
saya meninggal,” jelas Yoanna.
“Adji! Adji!!”
Alan lalu sibuk
menelpon putranya setelah tahu bahwa selama ini Yoanna hanya ingin membalaskan
dendamnya.
“Dia mungkin sedang
menikmati saat-saat terakhirnya. Saya masukkan sedikit racun ke wine yang
sengaja saya pesankan untuk dia, jika sistem kekebalan tubuh Adji kuat, mungkin
dia bakal selamat, tetapi jika tidak maka sebaliknya,” ucap Yoanna dengan
santainya.
Alan terlihat
frustasi dan ia lalu memandang Yoanna masih tak percaya.
“Kenapa kamu lakukan
semua ini? Adji sama sekali gak bersalah....”
“Saya juga menanyakan
hal yang sama! Kenapa anda tega membuat kedua orangtua saya meninggal? Apa
salah mereka?!” bentak Yoanna seraya menangis.
Alan lalu menghela
nafasnya. “Apa saya salah, kalau saya ingin mengambil kembali anak kandung
saya?”
Yoanna menatap Alan, ia
bingung dengan ungkapan pria itu.
“Rudy, dia bukan Ayah
kandung kamu. Wilona waktu itu mengandung anak saya dan saya gak bisa berbuat
banyak terlebih dia akhirnya menikah dengan pria itu.”
“It
means....”
“I’m
your biological father,”
“Adji....” tiba-tiba
saja kepala Yoanna terasa pusing, pikirannya terlalu sulit menerima apa yang
baru saja ia dengar.
“Waktu itu saya sangat
marah dan ingin sekali mengambil kamu, tapi Wilona menentang saya dan malah
mengatakan kalau kamu adalah anak Rudy. Saya sengaja meminta kasus itu ditutup
agar hanya saya yang tahu keberadaan kamu dan segera merawat kamu sebagai anak
kandung, tetapi saya malah mendapatkan info kalau kamu tewas tertabrak mobil.
Hati saya hancur, saya bahkan tidak tahu dimana kamu di semayamkan, dan
sekarang kamu ada di hadapan saya.”
Yoanna tidak
perduli dengan segala kata-kata Alan. Ia malah berbalik dan perlahan berjalan
meninggalkan Alan.
“Adji, dia baik-baik
aja. Racun itu gak pernah ada,” ucap Yoanna sebelum benar-benar hilang dari
pandangan Alan.
~~~
Adji memandang
sekitarnya, sudah hampir 1 jam ia menunggu kedatangan Yoanna. Setidaknya ia
akan melamar Yoanna saat itu juga. Ditenggaknya wine yang kini tinggal setengah
botol, saat itu juga Yoanna sudah tiba di sampingnya.
Seperti biasa,
perempuan itu selalu tersenyum dengan manisnya. Satu hal yang selalu membuat
Adji jatuh cinta pada Yoanna.
“Kamu kenapa bawa wine
lagi?” tanya Adji saat melihat Yoanna mengeluarkan sebotol wine dari sebuah
kotak.
“Itu wine kesukaan
kamu. Kamu harus nikmati itu sendirian, aku juga begitu.”
Adji tersenyum
memandang perempuan yang kini menuangkan wine ke gelas miliknya. Perempuan yang
selalu berhasil membolak-balikkan isi hatinya.
“Yo...”
“Kamu... aku rasa kamu
harus berhenti selidiki kasus 17 tahun yang lalu itu. Selain karena udah lama
banget, itu juga percuma untuk dilakukan, karena sekalipun kamu menghadirkan
fakta dan kebenaran, tetap aja orang gak peduli.”
“Maksud kamu?”
“Ketika kamu berhasil
menyelidiki kasus itu, mungkin kamu akan puas, tapi saat itu juga kamu akan
sedih. Terkadang, keingintahuan bisa menyakitkan dan membunuh diri sendiri,” ucap Yoanna.
Adji masih
bingung, Yoanna tampak tenang sambil meminum wine miliknya. Ada yang aneh,
pikirnya saat itu.
“Jangan kasihani orang
yang sudah mati, tapi kasihani mereka yang hidup tanpa cinta.”
“Yo..”
“Aku senang akhirnya
ketemu kamu,” ucap Yoanna. “Pertama kali kita bertemu, saat dimana aku selalu
bersyukur karena kamu.”
“Yo.. kamu gak kenapa-kenapa
kan?”
Yoanna tidak
menjawab, ia malah memegangi dadanya yang terasa sesak. Selanjutnya ia terbatuk
hingga mengeluarkan darah. Yoanna ambruk begitu saja dari kursi dengan darah
yang keluar dari mulutnya.
“Yoanna! Yo! Kamu
kenapa?!”
Adji panik bukan
main, ia langsung membawa Yoanna ke rumah sakit. Dalam perjalanan, Yoanna tetap
tersenyum, ia senang ada yang khawatir dengannya. Setidaknya, cukup ia saja
yang tahu fakta kalau dirinya adalah saudara perempuan Adji.
~~~
#July2000
Kiara seolah terhipnotis dan tak sadar ia sedang
dalam bahaya. Ia tak sempat menoleh, namun decitan ban mobil dan keramaian
orang sekitar membuat Kiara tak berkutik dengan mata yang siap terpejam.
Tubuh Kiara bergetar hebat, perlahan ia membuka
matanya yang terpejam dan mendapati sekitarnya terasa berhenti. Ia masih hidup.
Dilihatnya, ia sudah tertarik ke belakang menjauhi mobil yang tadinya akan
menabraknya.
“Kamu
gak pa~pa?”
Suara itu, Kiara menoleh mendapati anak yang mungkin
seumuran dengannya sedang memegang tangannya dan menatapnya sambil tersenyum
manis. Anak lelaki yang sebelumnya ia perhatikan sedang bersama dengan kedua
orangtuanya.
“Nama
kamu siapa?”
Kiara masih memperhatikan anak tersebut dan menarik
paksa tangannya.
“Makasih!”
ucap Kiara dengan ketusnya.
“Nama
aku Adji.”
Kiara tidak peduli dan malah pergi meninggalkan anak
lelaki bernama Adji begitu saja. Ia hanya meninggalkannya, namun Kiara selalu
mengingatnya.
~THE END~
Komentar
Posting Komentar