Langsung ke konten utama

A Bittersweet Smile ‘On Your Wedding Day’



Movie Review           : A Bittersweet Smile ‘On Your Wedding Day’
Starring by                : Park Bo Young & Kim Young Kwang
Realease Date          : August 22, 2018.


Bersama Oasis-nya EXO mencoba memikirkan kalimat pembuka apa yang pantas untuk membuka sesi tulisan kali ini. Oh iya, beberapa waktu belakangan, Aku sempat menonton beberapa film dengan berbagai macam genre, mulai dari Mission Impossible : Fallout,  Accidental Detective 2 sampai ke solo movie-nya Valak, The NUN. Drama Korea juga gak luput dari tontonanku, mulai dari Mr. Sunshine yang berhasil membuatku nangis sesegukan (niatnya pengen review juga, tapi file malah membusuk perlahan di folder kesayangan), sampai 100 Days My Prince yang berhasil buat perasaan campur aduk.

Jujur aja bagiku memilih bahan tontonan itu sama sulitnya dengan pilihan mau makan apa hari ini, karena kalau tontonan kebetulan lagi gak sesuai sama mood bisa jadi film itu terasa hambar, sehambar sayuran tanpa garam. Kalau mood lagi ceria bangetlah, wajib bagiku untuk nonton sesuatu yang bawaannya bikin ketawa, gak usah nonton film deh, nonton marathon episode variety show Ask Us Anything itu rasanya lucu luar biasa. Lain lagi kalau semisal mood inginnya suatu tontonan yang romantis lalu membuat penontonnya tersenyum-senyum sendiri seolah merasakan perasaan si pemeran utama, maka A Gift, dan deretan drama Korea seperti Goblin, Fight For My Way dan terbaru My Id Is Gangnam Beauty jadi saran utamaku jika ada yang bertanya. Terakhir, Aku baru aja mengalaminya. Perubahan mood tontonanku jadi berubah drastis, dari tontonan penuh tawa sampai akhirnya tiba di tontonan yang membuat mood-ku ada di posisi ceria, sedih, hampa, lalu berharap.

Hal ini bermula dari besarnya rasa kagumku dengan sosok Park Bo Young, aktris handal bertubuh mungil dengan wajah awet muda di kala usia sudah menginjak nyaris 30 tahun. Menyukai Park Bo Young sejak bermain di film A Werewolf Boy (2012) bersama Song Joong Ki lalu Aku mulai mengikuti berbagai macam film dan dramanya. You Call It Passion (2015), Oh My Ghostess (2015), Strong Woman Do Bong Soon (2017), dan terbaru On Your Wedding Day (2018). Besarnya rasa kagum ke Park Bo Young membuat Aku buta akan judul film yang akan ditonton saat itu, hanya berpikir satu-satunya film sedih yang diperankan Park Bo Young cukup A Werewolf Boy aja.

Written In The Stars-nya Wendy Red Velvet ft. John Legend jadi awal bagiku untuk menjelaskan bahwa On Your Wedding Day tidaklah seindah judulnya.

Jauh sebelum Park Bo Young muncul bersama Song Joong Ki di A Werewolf Boy, maka sudah muncul terlebih dahulu Ko Chen Tung dkk lewat film You Are The Apple Of My Eye (2011). Film yang menggambarkan bahwa cinta yang kita miliki saat ini bukan berarti akan tetap bersama kita di masa depan, kurang lebih On Your Wedding Day menceritakan tentang kisah yang sama namun berbeda. You Are The Apple Of My Eye dan On Your Wedding Day ibarat satu jenis masakan yang sama namun diracik dan dimasak oleh dua orang yang berbeda, tentu rasa dan rupanya pasti tak sama. Walaupun menyajikan kisah yang sama namun kedua film memberikan cita rasa berbeda di tiap adegan yang tersaji.

Mungkin karena dikemas di tahun 2018, maka On Your Wedding Day juga lebih berwarna dan cinematografi yang disajikan juga sangat bagus seiring mengikuti jejak waktu dalam film yang berpindah dari tahun ke tahun. Penulis sekaligus sutradara film ini yakni Lee Seok Geun rasanya tepat sekali untuk memilih Park Bo Young dan Kim Young Kwang sebagai karakter utama. Kedua pasangan Aktor & Aktris ini sangat pintar untuk mengolah akting mereka dengan setting tahun yang berganti, dimulai sebagai siswa-siswi SMA hingga sebagai seorang dewasa yang sudah paham bagaimana pahit manisnya kehidupan. Park Bo Young memerankan seorang gadis bernama Hwan Seung Hee yang percaya cinta sejati pada pandangan pertama, sementara Kim Young Kwang memerankan seorang lelaki bernama Hwang Woo Yeon yang jatuh cinta pada pandangan pertama dan percaya bahwa Seung Hee adalah takdirnya.

Cerita bermula ketika Seung Hee menjadi anak pindahan di sekolah tempat Woo Yeon berada dan  menjadi bincangan hangat satu sekolah karena marganya yang langka. Seung Hee merupakan perwujudan dari tipe ideal kebanyakan lelaki, mungil dan cantik, walaupun sesekali Seung Hee bersikap kasar dengan memberikan jari tengahnya ke beberapa lelaki faktanya itu malah membuatnya semakin ‘dikejar’. Sementara Woo Yeon adalah perwujudan dari kebanyakan anak lelaki usia SMA, nakal, hobi baku hantam dan malas. Kehadiran beberapa pemeran lainnya juga turut membuat film ini menjadi lebih berwarna, teman-teman Woo Yeon dengan beragam sifat dan kisahnya hingga kehadiran Song Jae Rim sebagai Lee Yoon Geun, senior sekaligus kekasih Seung Hee di masa kuliah.

Masalah kehidupan cinta Seung Hee dan Woo Yeon sama seperti kebanyakan pasangan muda-mudi lainnya. Berpisah saat remaja, bertemu saat beranjak dewasa dan berpisah ketika benar-benar sudah dewasa. Ada saat dimana Seung Hee tengah menjalin hubungan kasih dengan Lee Yoon Geun sehingga Woo Yeon harus merelakan walau sebenarnya tak rela. Ada juga saat dimana Woo Yeon sudah memiliki kekasih ketika akhirnya bertemu kembali dengan Seung Hee setelah sebelumnya berpisah. Serumit itu.

Menjelang akhir, konflik yang disajikan mulai beragam, Seung Hee dan Woo Yeon resmi berpacaran dan sepakat untuk hidup bersama. Seung Hee yang sukses sebagai desainer sementara Woo Yeon yang masih berkutat dengan pekerjaan paruh waktunya. Tubuh yang cedera membuat Woo Yeon sulit untuk mendapatkan pekerjaan dan hal itu rupanya menjadi alasan tersendiri bagi Woo Yeon untuk ‘belum’ menikahi Seung Hee. Karir Seung Hee yang semakin tinggi, teman-temannya yang sudah sukses dan menikah membuat pikiran seorang Woo Yeon bingung tak karuan. Konflik semakin memuncak saat Seung Hee mengatakan bahwa ia akan ditunjuk untuk pergi ke Belgia selama 2 tahun. Hal demi hal semakin membuat Woo Yeon berpikiran bahwa bagaimana jika hidupnya tidak bertemu dengan Seung Hee? Akankah Ia jauh lebih baik dari sekarang? Atau malah lebih buruk?

Pemikiran Woo Yeon ia ungkapkan ke sahabat dekatnya Ok Geun Nam (Kang Ki Young) saat upacara kematian Ayah Seung Hee. Semua ungkapan yang lama dipendam Woo Yeon tanpa sadar terdengar oleh Seung Hee dan siapa yang menyangka kalau ‘itu’ menjadi akhir bagi mereka.

Akhir yang sebenarnya adalah ketika Seung Hee kembali dari Belgia seraya memberikan sepucuk undangan pernikahannya kepada Woo Yeon. Sempat tidak ingin datang ke pesta pernikahan sang mantan, nyatanya Woo Yeon bergegas datang ke pesta dan menyelinap dengan bantuan teman-temannya. Pagi buta setelah malam sebelumnya ‘menculik’ kedua temannya untuk menemaninya, Woo Yeon seolah sadar bahwa semua hal yang telah ia lalui adalah perkara waktu, jika ia tidak bisa mengembalikan waktu, setidaknya ia bisa memperbaiki apa yang rusak lewat waktu.

Ada satu kondisi dimana tubuh tidak tersakiti secara fisik namun secara jiwa, karena terlalu sakit kita hanya bisa menghirup nafas sedalam-dalamnya lalu menghelanya perlahan berharap rasa sakit juga keluar. Rasa sakit yang terlalu besar seolah mengalahkan rasa ingin menangis, sehingga sulit sekali mengeluarkan setetes air mata. Begitulah kira-kira yang dirasakan oleh Woo Yeon saat Seung Hee pergi dan kembali namun malah memberi kabar tentang pernikahannya.

Jika meniru kata-kata dari Film Koala Kumal (2016) maka Seung Hee adalah patah hati terhebat yang pernah Woo Yeon rasakan. Di hari pernikahan Seung Hee, Woo Yeon mengungkapkan semuanya, perasaan bersalahnya dan ucapan terima kasihnya dengan senyuman pahit namun ikhlas, karena puncak dari patah hati adalah mengikhklaskan.

Sebagai penonton, tepat rasanya mengambil banyak pelajaran dari kisah Seung Hee dan Woo Yeon. Pertemuan hingga perpisahan mereka memberi makna bahwa berpisah tidak melulu harus ‘melupakan’ tapi tentang perlahan ‘menghilangkan’ rasa. Lewat kenangan kita merindu, namun dengan menghilangkan rasa kita bisa ciptakan rindu yang baru.

Setelah menonton film ini rasanya ingin berterima kasih lagi dan lagi kepada sutradara beserta seluruh kru yang telah memilih Kim Young Kwang dan Park Bo Young. Akting epik yang disajikan jadi alasan tersendiri bagiku atas kesuksesan film ini, mengingat pendahulunya You Are The Apple Of My Eye (2011) juga sukses tidak hanya di negara asalnya. Mungkin On Your Wedding Day bisa menjadi biasa saja jika sang aktor-aktris tidak menyajikan akting yang epik, maka dari itu pemilihan Park Bo Young dan Kim Young Kwang sangat saya acungi jempol. 

Pada akhirnya On Your Wedding Day tidak menyajikan ending yang bahagia tidak pula yang menyakitkan. A bittersweet score for On Your Wedding Day is 9/10.








-the end-

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Our Unwritten Seoul, Drama Ter-Healing se-2025

Setiap orang hidup dengan luka dan trauma masing-masing. Orangtua, saudara bahkan diri kita sendiri, terkadang masih menyangkal bahwa hidup berjalan baik-baik saja, padahal bagaimana kita menghadapi dan menjalani kehidupan yang seolah baik-baik saja ini malah menunjukkan, bahwa ada beberapa hal yang harus dan perlu dikomunikasikan. Our Unwritten Seoul adalah project drama kesekian milik Park Bo Young sebagai pemeran utama. Mengisahkan tentang sepasang saudara kembar identik, Yu Mi Rae dan Yu Mi Ji. Selayaknya saudara kandung, mereka memiliki kepribadian yang sangat bertolak belakang. Mi Ji adalah sosok ceria sedangkan Mi Rae memiliki sosok dingin dan dikenal dengan kepintarannya. Drama ini sepenuhnya berfokus dengan kisah Mi Ji selama menggantikan Mi Rae yang bekerja di Seoul. Sayangnya saya malah sangat menyukai dan merasa sangat relate dengan tokoh Mi Rae. Entah karena dia anak sulung atau kehidupannya yang memang terasa sangat nyata bagi saya. Ada masa di mana kita ingin melu...

Movie Review : ‘Hampir Mati Demi Mesin Cuci’ in Target : “Don’t Buy The Seller”

               Beberapa waktu yang lalu, ada berita menghebohkan tentang seorang wanita yang melakukan terror berupa order fiktif ke mantan pacarnya. Hal tersebut dipicu karena sakit hati tidak terima hubungan mereka diputuskan secara sepihak begitu saja. Langsung saja total ratusan order fiktif dikirim ke alamat rumah sang mantan. Kurang lebih seperti ini gambaran film yang baru-baru ini saya tonton. Film berjudul Target : Don’t Buy The Seller ini dibintangi oleh Shin Hye Sun & Kim Sung Kyun. Bercerita tentang Joo Soo Hyun (Shin Hye Sun) yang membeli mesin cuci bekas melalui situs online, namun barang yang dibeli sama sekali tidak berfungsi alias rusak. Sama seperti konsumen pada umumnya, Soo Hyun langsung menghubungi pihak s eller dengan niat protes dan berharap uang kembali. Namun naas baginya, seller langsung menonaktifkan akun dan hilang begitu saja. Apakah Soo Hyun patah semangat? Tentu saja tidak. Di sela-sela kesibukannya, So...

The Day We Parted

                        Perempuan itu menoleh ke belakang, mendapati seorang lelaki tengah berdiri sambil tersenyum. Perlahan perempuan itu mengangkat sedikit gaunnya yang sesekali terinjak kakinya yang belum mengenakan sepatu. “Cantik banget sih?” “Bisa aja lo.” “Tapi serius deh, ga nyangka gue lo cakep kalo dandan kayak gini,” ucap lelaki itu yang perlahan berjalan mendekati sang perempuan yang masih sibuk berkaca ditemani seorang perias. “Mbak Sara, 30 menit lagi saya jemput mbak-nya ya,” ucap sang perias yang berbalas anggukan kepada perempuan bernama Sara itu. Seolah paham, bahwa 2 orang tersebut sedang butuh privasi untuk sementara waktu.             Hanya ada saling pandang dan senyuman yang canggung antara 2 orang tersebut. Padahal 4 tahun harusnya waktu yang lama untuk bisa berhenti canggung satu sama lain. “Secantik itu ya...